Namun ibu tidak ikut serta mendampingi beliau bertugas dikarenakan aku masih memilki 2 (dua) orang adik yang sudah menikah dan yang masih duduk di Sekolah Lanjutan Menengah atas (SLTA). Ibu beserta adik-adikku berada di kota Pekanbaru, sementara ayah dan diriku berada di Tpi.
Aku bekerja di salah satu Instansi Lembaga Pemerintahan di daerah Provinsi Kepulauan Riau, sementara ayah di daerah Kota Tpi. Kesehari-harianku bisa menjaga dan mengurus ayah hanya waktu beliau pergi dan pulang kerja. Namun untuk pagi dan siang menjelang sore waktu kami isi dengan pekerjaan rutin dan terkadang waktu makan pun kurang teratur dan kadang makanan untuk makan siang pun siap saji tanpa mengetahui bahan pengawet apa yang di gunakan.
Sekitar bulan Juli tahun 2009 ayahku telah memasuki masa purna bakti atau pensiun. Ayah akhirnya kembali berkumpul bersama ibu dan ke dua adikku serta menantu dan 1 (satu) orang anak. 2 (dua) minggu kemudian ayah mertua adikku yang sebelumnya berada di Semarang berkunjung ke Pekanbaru. Isteri adikku ini bernama Vina. Ayah Vina ini ternyata di Semarang di kenal sebagai ahli pengobatan alternatif.
AYAH SAKIT
Pada suatu hari ayah mengeluh nafasnya sesak, keringat dingin keluar, muntah, demam panas,dan perutnya makin hari semakin membuncit. wajah ayah semakin lama semakin pucat. Padahal beberapa bulan lagi ayah dan ibu berencana akan menunaikan ibadah haji. Ibu dan keluarga membawa ayah berobat ke dokter menginap di rumah sakit. Namun kesembuhan belum didapat ayah. Nah, di saat ayah sedang sakit, ayah vina menawarkan bantuan untuk mengobati ayah dengan caranya.
Ia datang ke rumah dan melakukan prosesi pengobatan. Memijit dengan menggunakan bacaan-bacaan ayat, kemudian bekam, dan mengolah buah mengkudu, labu air dan nenas menjadi obat, dan lain sebagainya.
Ketika ayah Vina mengobati ayahku, ia menceritakan masa mudanya jauh sebelum naik haji.
Cerita ayah dulu ketika masa muda, ada satu hal yang waktu itu beliau sempat menelan serbuk seperti kristal pemberian dari temannya, yang katanya berguna untuk menangkal santet tenung teluh ilmu ditam dan sebagai pelindung diri. Serbuk tersebut konon sudah mendarah daging dan teman yang memberikan serbuk tersebut telah meninggal. Ayah meminta bantuan dari sang paranormal untuk mengeluarkan serbuk tersebut sebelum menunaikan ibadah haji.
Singkatnya, ayah Vina berhasil mengeluarkan dan membersihkan diri ayah dari pengaruh “Serbuk Penangkal” dengan caranya sendiri. Tapi sayangnya, ayah belum sembuh juga. Kondisinya bahkan semakin parah dan pucat. Meskipun begitu, ayah tetap mengerjakan sholat lima waktu dan semakin intensif mendekatkan diri pada Allah SWT dengan melakukan ibadah sunnah seperti sholat tahajud.
KEJADIAN ANEH
Beberapa waktu setelah proses pembersihan serbuk penangkal tersebut, ayah mengalami kejadian aneh. Ia kedatangan tiga orang tamu tak dikenal. Ketiga tamu tersebut menawarkan bantuan dengan mengobati ayah, tamu tersebut berniat ingin mengajak ayah mengikuti segala ajaran dan perintah yang mereka anut dan kerjakan, ayah menanyakan ajarannya apa, dan bagaimana mengerjakannya.
Ketiga tamu tersebut mengaku beragama Islam, namun anehnya tidak melaksanakan syariat sholat lima waktu, tidak mengenal dua kalimah syahadat, tidak melaksanakan ibadah puasa dan memiliki satu orang nabi setelah nabi Muhammad SAW, dan setiap malam bulan purnama punya ritual khusus yang harus di laksanakan di depan mayat orang yang baru meninggal, kemudian meminta uang sebesar 5 juta rupiah untuk iuran kegiatan mereka.
Spontan ayah terkejut dengan apa yang mereka katakan, ayah marah bahkan bilang bahwa ajaran islam yang sesungguhnya tidak begitu, dengan beraninya dan lantang ayah mengatakan aliran yang kalian anut sesat !!!! itu bukan Islam !!!! biar bagaimanapun saya tidak akan menerima ajakan kalian !!! maaf…saya saat ini sedang sakit, sebaiknya kalian keluar dan segeralah pulang,, tolong keluar dari rumah ini !!! mereka akhirnya terdiam, kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Sebelum pulang, sebaiknya bapak bisa pikirkan dulu mengenai ajakan kami ini. Baiklah..kami akan pulang dulu”
Pada malam harinya, sekitar pukul 2 malam, ayah mengeluh sakit, nafasnya sesak, muntah, perut membuncit, keringat dingin mengucur deras, dan muntahnya mengeluarkan darah. Waktu itu walau dengan susahnya bernafas beliau masih sempat sholat tahajjud. Dan ayah Vina datang mengobati ayah, kemudian ayah tertidur.
Di dalam tidurnya ayah bermimpi rumah kami dari atas di teropong sama 3 (tiga) orang, dan ke tiga orang tersebut menaburkan sesuatu dari atas rumah. Ayah terbangun dan menceriterakan mimpi tersebut kepada keluarga.
Semakin hari kondisi ayah semakin memprihatinkan padahal tidak lama lagi sekitar 1 bulan mendatang ayah berencana akan menunaikan ibadah haji. Nah, ada kejadian histeris yang terjadi pada suatu malam tepatnya pada malam Jumat kliwon.
Saat tidur, tiba-tiba ayah berteriak-teriak seakan sedang berbicara sama makhluk yang tidak berwujud yang ada di depannya.
“Tolong jangan ganggu saya, pergilah kalian, saya tidak mau minum darah, pergi sana pergi !”
Takut terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan, adekku buru-buru memanggil ayah vina. Sang paranormal pun cepat-cepat mendatangi rumah kami dan melihat kejadian mencengangkan ayahku memegang leher, seperti ingin melepaskan tangan orang yang hendak mencekik lehernya.
Allahu Akbar !!! Ya Allah lindungi saya !!! Astaghfirullahaldzimm,, kami yang berada disitu berusaha menolong ayah, ayah Vina kemudian bersiap-siap dengan jurusnya untuk menyerang balik makhluk itu, menurut yang dia lihat, rumah ini diserang dari tiga penjuru, dari sudut kiri, kanan dan depan.
“Tolong kalian semua waspada….!!!!
Yang sudut kanan akan menuju ke kamar Icha (adik perempuanku) yang saat itu sedang tidur, trus yang disebelah kiri akan menuju ke ibuku, dan yang di depan sasarannya ke ayahku, yang tadi sempat berhasil melepaskan cekikan, kemudian bersiap-siapa datang menyerang lagi. Tapi sepertinya mereka tidak mengenaliku yang waktu itu baru saja tiba di Pekanbaru. Ayah vina dibantu adik laki-lakiku kemudian terlibat seperti sedang berkelahi. Kulihat mereka bertarung, saling tendang, tenaga dalam dan menyerang.
Naluriku memerintahkanku untuk langsung membawa ayah masuk ke kamar dan mengambil kitab suci Al quran. Aku membaca Al Quran di dekat ayah, sambil memijit dan meminumkan obat yg di berikan ayah vina. Kemudian Vina gantian menjaga ayahku, terdengar suara pintu kamar adikku seperti bergerak dan terbuka, aku langsung keluar sambil melafazkan ayat kursi aku mendengar suara kaki diseret namun tidak berwujud.
Ayah wina membaca mantera dan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dan melemparkan kearah makhluk tersebut, kemudian sepertinya makhluk itu terkena pukulan ayah Vina, barang-barang pecah belah dan lemari ikut pecah dan hancur, kemudian mendengar suara teriakan: “Panas panas panas….” Aku merasakan sosok tersebut semakin lama semakin mendekati aku dan adikku.
Aku membangunkan adikku, supaya cepat tersadar, akhirnya, suara kaki di seret dan desahan nafas pun terdengar olehku, namun tidak terdengar oleh adikku. Semakin lama aku semakin sering melafazkan ayat-ayat alquran. Adikku juga ikut melafazkannya.
Namun sepertinya adikku terlebih dahulu yang menjadi sasaran, sekujur kaki adikku ngga bisa digerakkan, aku langsung semakin kuat melafazkan ayat –ayat alquran, yah..benar kata ayah vina, mereka tidak mengenalku, namun pikirku aku pasti bakalan ikut terkena juga..Akhirnya ayah vina datang ikut menyerang makhluk yang ada di depanku, makhluk tersebut lari namun sempat mengeluarkan bau hangus seperti terbakar.
Makhluk yang ada di penjuru sebelah yang tadinya akan masuk ingin mencelakakan ibu, ternyata ngga berani masuk dan cuma mengawasi ajah. Akhirnya dengan kuasa Allah Yang Maha Perkasa, makhluk-makhluk tersebut pergi.
Ayahku tetap saja masih sakit, namun dia tetap meneruskan rencana awalnya untuk menunaikan ibadah haji. Ketika hari H, aku dan sekeluarga mengantar ayah dan ibuku ke bandara, ayah masih sakit namun dia bertekad baja untuk memenuhi panggilan Allah itu sambil membawa dokter spesialis untuk menemani ayah dan ibuku.
SEHAT SETELAH BERHAJI
Waktu itu aku hanya pasrah, melihat kondisi ayahku yang semakin hari semakin lemah. Aku hanya bisa mengirimkan doa, sambil sekali-skali menanyakan kondisi ayah ibuku disana. Akhirnya ibadah haji selesai dan orangtua ku pulang dalam keadaan sehat, putih berseri dan bugar atas ijin Allah.
Alhamdulillah… keluargaku selamat. Cobaan yang mengerikan tersebut kami terima dengan lapang dada. Cobaan itu berupa pembelajaran bahwa Allah SWT Maha Melindungi siapapun yang berusaha untuk mendekatinya.
La tahzan, innallaha ma’ana…..
Jangan bersedih, karena Allah bersama kita….
Ya Allah,,bantulah kami untuk terus bersyukur…
Atas semua keadaan terus bersabar…
Dalam menjalani semua masalah serta ikhlas….
Atas semua yang kau takdirkan….
Serta melapangkan dada…
Untuk terus menjadi pribadi yang kau cintai….
@ PEKANBARU,2013
Jangan bersedih, karena Allah bersama kita….
Ya Allah,,bantulah kami untuk terus bersyukur…
Atas semua keadaan terus bersabar…
Dalam menjalani semua masalah serta ikhlas….
Atas semua yang kau takdirkan….
Serta melapangkan dada…
Untuk terus menjadi pribadi yang kau cintai….