Minggu, 28 April 2013

Makmumku Dari Bangsa Jin

Aku adalah Emo, aku seorang pria yang saat ini berumur 23 tahun, namun umurku saat mengalami kejadian ini masih 17 tahun dan masih SMA. Kebetulan aku adalah murid yang aktif di kegiatan ekstrakulikuler teater. Karena ada sebuah penggarapan pentas, latihan teater pulang malam sekitar jam 20.30.

Jalan pulang yang kulalui memang harus melewati komplek pemakaman umum di daerah tempat aku tinggal, komplek pemakaman terbesar di daerahku. Mengapa aku menyebut komplek pemakaman? Karena tanah pemakaman ini sangatlah luas dan di sekat-sekat oleh jalan beraspal dan dinding tembok sebagai batas tanah makam, sehingga pemakaman ini layaknya sebuah komplek, dan diantara komplek pemakaman itu terdapat sebuah Masjid yang biasa digunakan warga sekitar.

Jam telah menunjukkan 20.55, maka kuputuskan saja berhenti di Masjid tersebut. Sungguh megah Masjid tersebut, bersih dan suasananya nyaman, tidak ada kesan angker ataupun mengerikan walaupun Masjid tersebut ada di komplek pemakaman. Segera kuparkirkan sepedaku dan kukunci cakram sepedaku dengan sebuah gembok, jaman sekarang rasa aman sudah mahal harganya. Aku sudah terlalu terburu-buru untuk segera sholat, segera ku berwudhu dan berniat untuk melakukan sholat isya.

"Allahuakbar..." sesaat setelah takbir ada seseorang yang menepuk pundakku, pertanda ingin bermakmum padaku, untung saja aku belum membaca Al-Fatiha. Aku pun segera merubah niatku untuk menjadi Imam, bacaan surat Al-fatiha pun kunyaringkan bahkan sampai pada ayat "Wa lad dollin...". Makmumku menjawab "Amieeen..." dengan serentak. Rupanya yang bermakmum padaku lumayan banyak, pria dan wanita. Itu bisa aku ketahui dari bergemanya suara amien dan suara khas laki-laki serta perempuan.

Aku tak menaruh curiga, begitu pun saat rakaat kedua. Makmum yang mengamini sama seperti di rakaat pertama. Sholat isya` berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang aneh sampai saat aku menyelesaikan sholat dan salam. Saat aku menoleh ke kanan dan kekiri untuk salam, aku bisa melihat makmumku melalui pintu kaca yang mengelilingi Masjid, makmumku terdiri dari 2 shaff itu laki-laki dan perempuan, namun saat aku berbalik hendak bersalaman... mereka lenyap.

Heran, bingung dan takut menjadi satu. Posisiku yang bersilah membuatku tak mampu berlari langsung karena ketakutan. Keringat dingin dan hawa lembab menambah suasana horor yang aku rasakan. Sial, kakiku kesemutan membuatku tak mampu berlari. Dari belakangku seorang laki-laki berjubah putih menepuk pundakku.

Singkat cerita, lelaki itu mengenalkan diri sebagai kiyai yang biasa menjadi imam. Dari kiyai tersebut aku mendapatkan kenyataan bahwa di Masjid tersebut biasa digunakan sebagai pondok pesantren serta pusat menimba ilmu dari bangsa jin. Aku dibantu berdiri oleh pak kyai tersebut dan dihantarkan menuju sepedaku untuk pulang. Sepulang dari Masjid tersebut aku di beri sebuah sajadah berwarna hijau, sejak saat itu hingga sekarang aku mampu merasakan dan mendeteksi bangsa jin.

Dan kiyai yang memberikan sajadah? Hingga sekarang aku mencari beliau dan masih belum bertemu kembali. Bodohnya aku, aku lupa menanyakan nama beliau. Entah siapa beliau. Sekarang aku adalah seorang perawat, dan stock cerita misteriku masih banyak. Nanti pelan-pelan akan aku bagikan di web ini.

Indera Keenam di Kalangan Keluargaku

Hai, namaku Lia. Baru pertama kali baca di blog ini terus kepikiran buat ikutan sharing cerita. Kata beberapa anggota keluargaku, karena kakekku bisa interaksi sama yang gak keliatan (kayak ustad Solehpati di mister Tukul) hampir semua sodaraku jadi punya kelebihan (indera keenam) yang berbeda2...

Kakakku, cuman bisa ngerasain doang. Dia tau mana daerah yang ada penghuninya, tau kalau ada setan di sekeliling dia, dll. Adekku sering ketempelan (hampir mirip kesurupan). Pernah dia sampe ngurung diri di kamar berhari-hari dan gak mau omong apapun, sampe tiba-tiba ngamuk kalau dia lagi marah. Katanya tetanggaku, karena kalau dia lagi marah, dia selalu diem aja gak mau omong dan pikirannya kosong makanya gampang disusupi setan. Kalau aku sering banget deja vu lewat mimpi. Kadang mimpi lagi di tempat A, dan beberapa hari kemudian aku beneran pergi kesitu dan suasana ampe jalan ceritanya persis sama kayak di mimpiku.

Cerita serem ini juga aku alami di mimpiku. Ini salah satunya ya... Kira - kira 3 tahun yang lalu, sepupuku meninggal kecelakaan. Dia dan aku emang deket banget. Dan waktu itu dia tewas mengenaskan (tertabrak truk dan kelindas ban truk tepat di kepalanya).

Beberapa hari setelah dia meninggal, aku mimpi aneh tentang dia. Di mimpi aku sedang ditarik dia menuju ke gedung bertingkat. Wujudnya udah bukan kayak sepupuku tapi kayak kuntilanak. Pake baju putih panjang yang lusuh. Badannya lusuh, kuku panjang2, rambut acak2an dan menutupi mukanya. Dia membawaku ke tingkat paling atas dan terus–terusan mendorongku ke bawah. Aku jelas aja menolak dan berusaha menghindari dia.

Aku lalu bertanya sama dia "Kamu kenapa mau jorokin aku ke bawah? Salahku sama kamu apa?". Tiba-tiba aja dia mendongak ke arahku. Mukanya putih pucat, matanya merah sayu, bener–bener seperti mayat hidup. Dia jawab "Aku kesepian. Di sana aku sendirian. Kamu sayang sama aku khan? Ayo temanin aku!". Selesai jawab, lagi–lagi dia berusaha mendorong aku ke bawah. Spontan, aku berteriak–teriak meminta dia buat berhenti mendorongku. Aku menangis. Ketika dia tahu aku menangis, dia berhenti mendorongku.

Aku omong lagi ke dia "Vin, urusanku di dunia ini belum selesai. Tolong, jangan ajak aku buat nyusul kamu sekarang. Aku juga belum nunjukin bakti aku di dunia buat orangtuaku. Aku emang sayang sama kamu. Suatu saat pasti aku nyusul kamu. Pasti aku nyusul kamu di surga kalau udah waktunya aku dipanggil yang Kuasa. Tenang aja, aku bakal sering doain kamu biar gak kesepian". Dia lalu melepaskan tangannya dari badanku. Dia cuman tersenyum, senyum yang persis sama kayak waktu dia masih hidup.

Habis itu aku langsung bangun dari tidurku. Butuh waktu sampe berjam–jam buat nenangin diriku akibat efek dari mimpi buruk itu. Siangnya aku ceritain mimpi itu ke orangtuaku. Kata orangtuaku itu bukan Vina (sepupuku yang meninggal) tapi jin, niatnya pengen cari korban. Orangtuaku bersyukur banget waktu aku bisa menolak ajakannya, apalagi waktu aku bilang kalau kelak bakal nyusul di surga kalau udah saatnya. Katanya jawabanku udah tepat buat ngusir jin itu. Gak tau itu beneran jin atau gak.

Sekian ceritaku, mohon kritik dan sarannya ya. Maaf kalau ceritanya kurang serem atau ribet.


- Lia -

Nguber Kuntilanak Sambil Bugil

Hay nama gw Ara. Ini cerita pertama gw.

Minggu kemaren gw abis dari rumah uyut gw, seminggu gw tinggal di tempat uyut gw. Kebetulan di kampung uyut gw itu banyak wanita hamil dari yang hamil tua sampai yang hamil muda juga ada.

Pas kebetulan malam Rabu, ada tetangga uyut gw yang mau ngelahirin. Nah di rumah nya itu ada pohon pete gede. Singkat cerita, tetangga uyut gw itu ngelahirin jam 12 malam tepat. Pas lagi khawatir nungguin istrinya lahiran, eh.. ada suara kuntilanak di pohon pete. Sang suami kaget lah, apa lagi kata dukun beranaknya suruh di usir cepet2.

Nah si suami langsung buka baju, celana, dan kaos dalam, jadi tinggal celana dalam yang nempel di badan dia. Truz dia keluar rumah nyamperin tu kuntilanak sambil bilang "Woy ngapain lu nangkring disitu. Pergi ga! kalo ga pergi gua buka ni" sambil megang celana dalam, siap2 mau dibuka.

Nah terbang lah si kuntilanak ini, tapi terbang nya ga jauh dari rumahnya alias terbang nya kebelakang rumah gw. Keluar lah gw sama uyut gw. Nah bapak2 yang bugil juga ngejer kerumah gw. Truz bapak2 bugil ini disuruh pulang sama uyut gw, disuruh jagain istri nya aja.

Jadi uyut gw turun tangan, dia ambil tasbeh sama garam truz uyut gw baca2 ayat Al quran. Garam tadi dilemparn ke arah tu kuntilanak. Alhamdulilah kuntilanak nya ilang dan yang ngelahirin selamet.

Sekian cerita gw, maaf ya kalau jelek dan berantakan.

Sholat Tahajud di Masjid yang Gelap

Hai kembali lagi dengan Azka disini. Sebelumnya saya sudah posting cerita yang berjudul Gara-Gara Belum Solat Isya.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman paman saya sewaktu ia sedang bekerja larut malam di Kantor Walikota Jakbar. Tanggalnya saya lupa karena ia tidak menceritakan ceritanya secara detil.

Siang itu, seperti biasanya paman saya sedang bekerja di kantornya dan ia berniat untuk pulang karena memang sudah waktunya. Disaat ia bersiap untuk pulang, atasannya menyuruh paman saya supaya lembur malam ini karena salah satu pegawai ada yang sedang berhalangan masuk. Tentu saja paman saya setuju dan langsung mengontak keluarganya di rumah bahwa ia tidak pulang karena lembur.

Singkat cerita, malam pun tiba. Jam menunjukkan pukul 01.00 WIB. Karena merasa bosan, iapun turun ke ruangan security untuk sekedar ngobrol atau main catur untuk melepas penat. Setibanya di ruangan, ia langsung disapa oleh petugas keamanan dan diajak untuk main catur. Namun ia teringat untuk sholat tahajud di Masjid. Jadi ia memutuskan untuk sholat dulu, baru setelah itu main catur.

Setibanya di Masjid, ia langsung mengambil air wudhu. Namun saat itu ia merasakan ada sesuatu yang aneh. "Kayaknya dari tadi ada yang ngeliatin deh" gumam paman saya dalam hati. Ia meneruskan wudhunya dan masuk ke dalam Masjid. "Gelap banget" katanya. Ya memang Masjid disitu dimatikan lampunya jika sudah jam 10 malam.

Ia memulai sholatnya. Rakaat pertama, ada sesuatu yang aneh di sekeliling paman saya. Konsentrasi sholatnya berkurang. Suasana Masjid seakan-akan ramai. Rakaat kedua, paman saya mengeraskan suaranya. Dan ketika ia hampir selesai membaca Al-Fathihah, "Waladhooliin" dan tiba-tiba, "AAAAMIIIIIN" menggema di seluruh ruangan Masjid.

Paman saya langsung kabur berlari ke luar Masjid dan menghampiri security. "Mas, mas, di Masjid... ada yang amin tadi denger nggak??" kata paman saya sambil terengah-engah. "Wah tadi kan yang solat bapak sendiri" jawab security. "Tapi sumpah pak, ada jama`ahnya!! Makanya saya langsung lari kesini. Saya takut!". Dan setelah kejadian itu, paman saya tidak berani lagi sholat tahajud di Masjid. Ia lebih memilih untuk shalat di ruangan security.

Thanks dan maaf kalau ada kata yang salah.
Keep reading!

Sixth Sense Teman

Hai, saya Gavy disini, Mau posting cerita lagi nih. Maaf ya kalau enggak serem atau belepotan. Maklum masih pemula.

Ini cerita teman saya, sebut saja namanya Agus. Saya berteman akrab sama si Agus ini. Tapi saat saya jalan atau nongkrong bareng dia, dia sering sekali bilang kayak gini:

Agus : Fi ..
Saya : Apa ..?
Agus : Cabut yuk, ada yang gak senang nih

Saya pun cuma bisa mengiyakan apa yang dia inginkan. Dan pada bulan Januari (saya lupa tanggal berapa), saya kerumahnya buat ngajakin dia ke net. Saat saya mau manggil dia di depan rumah, dia sms saya. Sms nya begini "Fi, besok pagi aja ya gua temaninnya coznya ada yang lagi mondar mandir didepan rumah gua, gua juga sempat foto tuh orang". Langsung saya ambil langkah seribu buat cabut dari rumah Agus.

Keesokan harinya baru dia cerita ke saya kalau dia sebenarnya punya sixth sense, dan saya pun langsung kaget. Apalagi waktu dia nunjukin foto penampakan itu di Hp nya, tapi sayang banget tuh foto udah terformat sama dia. Dan dia juga pindah rumah karena rumah yang waktu itu saya datangi udah TERBAKAR :( (maaf ya Gus). Sampai saat ini saya sering banget ngeliat yang namanya makhluk halus walau hanya sekelebat. Apa sixth sense itu bisa menular ya ? :/

Mungkin ini aja dulu cerita saya. Kritik dan saran boleh kok, tapi jangan ngatain saya ya. Makasih :)


- Gavyner -

Hantu Penghuni Benteng Van Der Wijck

Assalamualaikum, saya Dimas dari Depok. Saya ingin berbagi salah satu pengalaman yang tak terlupakan.

Singkatnya:

Saya duduk di bangku kelas 8 SMP sekarang. Sebut saja saya di A dan saya mempunyai 4 teman dekat saya sebut saja si B, C, D dan E. Dua bulan yang lalu kami mengadakan kunjungan ke Yogyakarta. Setelah berbagai aktivitas akhirnya malam ke-1 pun tiba.

Pengalaman di malam ke-1 ini ketika kami tiba di suatu hotel untuk beristirahat agarr bisa kembali melanjutkan perjalanan esok hari. Tetapi semua itu diluar rencana bagi saya dan si B, kami adalah sahabat yang dekat sekali sampai kemanapun selalu bersama. Nah kebetulan kami berdua mempunyai banyak pengalaman tentang hal mistik, jadi kami menganggap hal itu wajar.

Malam itu di Hotel angker kami semua menginap. Kebetulan saya nyasar di hotel itu. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 23.00 dan saya sedang sendirian mencari kamar. Saat saya melewati ruang makan yang gelap, ketika itu saya melihat hal yang tidak wajar, salah satunya adalah ada perempuan yang sedang menangis di pojokkan.

Lalu karena saya kira itu anak sekolah kami maka saya dekati anak itu dan saya bertanya-tanya. Tetapi dia langsung menengok ke saya dan tidak berkata apa2. Ketika saya menengok ke belakang, dia langsung berada dipandangan saya. Nah saya tengok lagi kedepan dan dia sudah tidak ada. Hal itu langsung saya abaikan...

Saya melanjutkan mencari kamar dan saya menemukan kamar. Ketika itu suasana langsung sepi ketika pukul 23.30 dan banyak kejadian yang saya bersama si B alami..

Lanjut saja, inilah kejadian di benteng...

Nah setelah banyak pengalaman kami lalui. Kami tiba di Benteng Van Der Wijck. Kami tiba disana pukul 16.00 dan sempat melihat-lihat benteng sampai pukul 17.30. Nah waktu itu banyak sekali kejadian yang tidak wajar yang kami berlima lalui.

Dilain waktu.. Rahasia yang tidak diketahui rombongan sekolah kami adalah yaitu adanya ruang bawah tanah di tengah benteng tempat penggantungan hukuman mati. Kebetulan disini ada komplek militer, tempat ini sepi tidak ada petugas bahkan yang diketahui hanya ada rombongan sekolah kami saja.

Nah ketika malam hari suasana lebih sepi lagi. Ketika pulang sholat maghrib dan Isya saya dan teman-teman langsung menyerbu benteng, yah bisa dibilang "sok sok-an berani" dan menantang masalah datang.

Waktu semakin larut menunjukkan pukul 20.30. Ketika itu saya berlima banyak mengalami kejadian aneh-anehlah. Lalu teman saya meminta agar diantar ke toilet dan kami berlima pun ke toilet. Saya dan si B ditinggal kabur si C, D, E karena sesuatu.

Selesai BAK teman saya langsung bersikap aneh dan si B pun berteriak "Awas di belakang lu". Lalu diapun cerita, setelah keluar toilet katanya "Tadi ada wanita tua memakai baju putih dengan muka penuh darah". Lalu saya menengok kebelakang dan waaa... saya pun langsung kabur karena melihat muka tembus pandang di belakang kami dan di pohon.

Nah selanjutnya kami berdua melihat anak-anak yang wajahnya berlumuran darah. Dan malam itu kami sebut malam kacau karena tidak berjalan sesuai rencana dan banyak kejadian yang kami alami...

Sekian cerita saya, lanjutannya akan saya kirim beerikutnya. Maaf kalau tidak menyeramkan. Tolong ambil hikmahnya :)


- Dimas -

Perang Gaib

Hi, saya Hafiz. Cerita ini sebenarnya cerita dari mama saya. Ok, to the point..

Sudah hampir setahun mamaku tinggal di Ambon, di rumah nenek sekitar bulan April 2011. Mamaku tinggal agak lama disana karena omku yang katanya terkena guna-guna. Omku itu jatuh cinta kepada seorang wanita dari Irian, dan selama mereka pacaran, hal-hal aneh sering terjadi di rumah tersebut:

1. Suara kucing yang tak berwujud sering terdengar di dalam kamar omku itu.
2. Pernah mama dan nenekku mendengar omku mengigau memanggil nama gadis itu.
3. Mamaku pernah mendengar panggilan gaib yang melarangnya ikut campur.

Karena tidak tahan, mamaku menelpon guru ngajiku yang tinggal bersamaku di Sulsel. Guruku pun langsung menghubungi dukun yang juga merupakan gurunya.

(g:guruku, d:dukun)
d: "Halo".
g: "Maaf mengganggu. Tadi iparku telpon, minta bantuan untuk melenyapkan ilmu guna-guna pada adiknya.
d: "Baik, akan saya usahakan".

Walaupun dukun itu tau bahwa ilmu yang menyebrangi pulau sangatlah mustahil, tapi dengan bantuan beberapa rekannya yang juga sakti2, ilmu tersebut menjadi sangat kuat. Malam terus larut, mamaku belum juga tidur. Tiba-tiba terdengar ledakan yang dahsyat, rumah bergetar hebat. Tapi anehnya, tetangga tidak ada yang mendengar.

Bunyi ledakan itu seperti meriam yang ditembakkan sahut menyahut. Peperangan gaib itu terjadi selama 3 hari, 3 hari pula rumah nenekku berguncang. Setelah itu, suara tersebut tidak terdengar lagi, sampai hari keempat. Puncak dari perang itu adalah ledakan yang maha dahsyat. Rumah seakan diputar-balikkan saking hebatnya ledakan itu. Tiba-tiba terdengar jeritan yang sangat mengerikan dari luar rumah. Jeritan itu menyerupai lolongan serigala tapi sedikit mirip teriakan manusia.

Beberapa hari kemudian setelah puncak peperangan tersebut, datang kabar bahwa gadis itu meninggal dengan bekas cekikan di leher.

Sekarang, di bulan April ini, omku itu telah menikah dengan seorang gadis pilihan hatinya. Sekian dari saya. Kalau tulisannya kurang bagus, mohon dimaklumi karena saya juga baru pertama share disini (komennya yang mengkritik tidak apa, tapi yang ngawur jangan, ok...)

Kisah Misteri di Sanggau Kalimantan Barat

Assalamualaikum.wr.wb Nama saya Muhammad Ardha Wardhana biasa dipanggil Pampam atau Sono. Saya akan menceritakan pengalaman saya yang sampai sekarang membuat bulu kuduq saya merinding, tapi maaf kalau ceritanya tidak seru.

Waktu itu saya baru pindah dari Tangerang ke Sanggau (sebuah kabupaten di Kalimantan Barat). Saya ke Sanggau karena ikut dengan orang tua saya yang juga pindah, dan saya pindah pada tahun 2010 silam, tepatnya pada saat pertandingan terakbar di dunia atau piala dunia.

Pada saat itu saya ikut Nobar (nonton bareng) di taman dekat jembatan gantung yang ada di lingkungan Kantu. Karena jarak dekat maka saya berjalan kaki dari rumah, rumah saya ada di jalan Ahmad Yani no 18 depan puskesmas. Saya berangkat nonton hanya seorang diri.

Ketika babak pertama usai saya ingin membeli rokok dan akhirnya saya pun mencari kios, namun semua kios tutup. Saya pun berjalan menyusuri jalan Ahmad Yani. Ketika saya menemukan gang, saya melihat diujung gang tersebut ada cahaya yang saya kira ada kiosnya. Saya pun mencoba memeriksa dan saya pun masuk gang tersebut.

Di gang tersebut ada sebuah surau yang terletak di tengah2 gang. Ketika saya mulai masuk gang saya mendengar suara "BRRR... Brrr", saya kira itu hanya suara mesin AC, dan saya pun melanjutkan berjalan tanpa curiga sama sekali. Ketika saya hampir mendekati surau tersebut saya mendengar suara "HUUU... HUUU", seperti wanita menangis. Karena hanya samar2 dan tertup oleh suara AC maka saya tetap berjalan.

Dan ketika Saya tepat berada di depan surau, suara tangisan wanita itu semakin keras terdengar. "HUUU... HUUU... HHHUUU... HUUUU". Saya sontak hanya terdiam, dan bulu kuduk saya langsung berdiri. Ketika saya menoleh kebelakang tak ada siapa2, dan saya menengok ke arah surau itu.

Alangkah kagetnya saya, karena disebelah surau itu adalah pemakaman, dan banyak pohon pisang. Saya pun berbalik arah untuk kembali nobar. Namun ketika saya berjalan, suara itu mengikuti saya. Saya pun lari sekuat tenaga dengen mengeluarkan bijuu mode (maklum pecinta Naruto) dan akhirnya saya sampai di tempat saya nobar tadi dan suara itu menghilang.

Esoknya saya demam tinggi... dan saya bertanya ke orangtua saya yang Asli Sanggau. Kata orangtua saya memang kalau orang baru biasanya di buat seperti itu hanya sebagai sebuah perkenalan saja...

Sekian cerita saya. Sekali lagi maaf bila ceritanya kurang seru. Wasalamulaikum wr.wb

Rubi Cha Satpam Wanita Tangguh

Hai bertemu lagi dengan gw Agung - Jakarta Timur. Cerita yang kali ini gw kirimkan bukan dari tempat gw tinggal, melainkan dari kisah nyata teman gw nan jauh disana yang bernama Rubi Cha (nama disamarkan), mari kita simak ...

Namanya Rubi, ia baru 3 bulan kerja sebagai satpam wanita di sebuah ruko tempat perbelanjaan berlantai 3. Sebagai wanita dia rela bekerja demi menyambung hidup asalkan "halal".

Malam pertama ketika Rubi bekerja, tepat malam Selasa kliwon pukul 02:33, Rubi mengelilingi ruko itu. Semula, Rubi mengetahui cerita dari teman-temannya bahwa ada bunyi yang aneh dan beberapa lampu sering hidup sendiri, padahal panel pusat telah dipadamkan, Rubi tak menggubris hal tersebut. Menurutnya, itu hal yang wajar dan lumrah dalam kehidupan alam ghaib. Rubi termasuk orang yang tekun beribadah, jadi ia hanya bisa berserah kepada ALLAH SWT.

Setelah beberapa saat ia mengelilingi ruko, ia melihat seorang lelaki berjalan kearahnya. Lelaki itu memakai baju seperti orang China, kaos putih dan celana hawai coklat. Kontan Rubi mengucapkan salam karena ia pikir lelaki itu seorang manusia, tetapi lelaki itu hanya terdiam sambil berlari menjauh. Rubi kaget, lalu mengejarnya, karena ia pikir orang itu ingin berniat jahat. Namun apa yang terjadi, lelaki tersebut hilang dalam sekejap. Rubi mencari ke setiap sudut, mungkin orang itu bersembunyi, dan ternyata lelaki itu telah menghilang entah kemana.

2 hari kemudian, tepat malam Jum`at, Rubi kembali bertugas malam. Menunggu giliran berkeliling membuat Rubi mengantuk dan tertidur. Tiba-tiba ia merasakan hangat di bagian wajahnya. Ketika membuka mata, ia sangat terkejut, terlihat seorang wanita berambut panjang, wajahnya terkelupas seperti habis terbakar dan taring giginya yang panjang nan runcing ke depan yang nampak jelas seolah mau mengigitnya. Spontan Rubi mengucapkan astagfirullah, sambil mendorong wajah wanita yang menyeramkan itu, dan lenyap seketika.

Lalu dimalam berikutnya, ia kembali bertemu dengan sosok lelaki yang mengenakan baju seperti orang Cina yang ia temui malam sebelumnya. Rubi pun mendekat perlahan ke arah lelaki tersebut. Namun Rubi baru tersadar ketika ia melihat kaki lelaki itu tidak menapaki lantai ruko. Rubi akhirnya mengerti bahwa lelaki itu ternyata memang bukan manusia.

Tak lama kemudian, makhluk itu hanya diam memandang kearahnya. Spontan Rubi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, sosok itu mendekat dan berjabat. "Dingin" itu yang dirasakan Rubi ketika berjabat tangan. Lalu sosok itu mendeham arrrggg... Rubi memandangi wajah lelaki itu, nampak jelas wajahnya, putih pucat pasi. Rubi pun membaca ayat kursi dalam hati, namun tiba-tiba kuku lelaki itu memanjang. Rubi terhentak, lalu ia membaca ayat kursi kembali dengan genggaman kuat. Tiba-tiba, "wusshh" lelaki itu menghilang dari pandangan matanya.

Rubi pun akhirnya terbiasa, namun hal itu sungguh menguras tenaganya karena hanya Rubi yang dapat melihat setiap penampakkan. Rekan sekerjanya yang lain tidak pernah melihat mahluk gaib di ruko ia bekerja, hanya sering mendengar suara aneh atau drum sampah yang menggelinding sendiri. Akhirnya Rubi disarankan oleh teman yang mempunyai indra ke 6, bahwa bila melihat sosok yang tidak jelas seperti itu jangan diladeni, cuekin saja pura-pura tidak tahu.

Dan ternyata ruko yang baru dibangun itu dahulunya memang tempat bekas pertahanan benteng zaman perang, dan kebanyakan yang berjaga di benteng itu adalah orang China. Ditambah lagi setiap toko yang berjualan, ada yang menaruh barang-barang pengasih untuk melariskan tokonya, jadi unsur energi negatif bercampur, sehingga penampakkan mahluk gaib sangat jelas sekali, padahal mereka jarang menampakkan diri dengan rupa yang mirip manusia, apalagi sampai bisa menyentuh tubuh manusia yang beda dengan tubuh mereka.

Wawlaahu` alaam. Ini ceritaku yang ke lima, terima kasih sudah mau membacanya, silahkan berkomentar ...

Mengadopsi Thuyul Dari Alas Kucur Bayat Klaten






ALAS Kucur bagi warga Klaten memang dikenal sebagai hutan yang angkernya sudah kelewatan. Bahkan hutan yang masuk wilayah Paseban, Bayat, Klaten, Jawa Tengah ini wingitnya tak kalah dengan Alas Ketonggo di Jawa Timur yang konon tempatnya dedemit-dedemit wilayah timur berkumpul.
Alas Kucur merupakan hutan berupa perbukitan. Di dalam hutan ini terdapat sebuah sendang atau mata air yang bernama Sendang Kucur. Cerita para orang-orang tua dahulu, sendang inilah yang menjadi pusar atau titik tengahnya Alas Kucur.
Konon Sendang Kucur terbentuk dari sebuah peristiwa magis yang dilakukan oleh seorang tokoh sakti mandra guna asal Klaten bernama Ki Ageng Pandanaran yang hidup pada masa para wali, ratusan tahun yang lalu. Pada suatu hari Ki Ageng Pandanaran tengah mengembara bersama istrinya yang bernama Nyai Kali Wungu.
Tibalah suami istri ini pada sebuah hutan labat tak berpenghuni. Mendadak sang istri merasa haus dan segera ingin minum untuk menghilangkan dahaga. Setelah mencari-cari sumber mata air, namun Ki Ageng Pandanaran tak menemukannya.
Dengan kesaktiannya Ki Angeng Pandanaran lantas menggoreskan kuku tajamnya di tanah. Goresan kuku dari pengembara sakti ini kamudian memancarkan air dari dalam tanah. Makin lama air yang menyembur kian banyak dan akhirnya membentuk sebuah genangan yang kemudian airnya dipergunakan untuk minum sang istri.
Nama Alas Kucur pun akhirnya diambil dari peristiwa magis tersebut. Kata Kucur jika dipisahkan akan membentuk kelompok kata yakni Ku dari kata kuku dan dari Cur yaitu mancur. Maka jika diterjemahkan berarti sebagai sebuah pancaran mata air yang dihasilkan dari goresan sebuah kuku.
Ki Ageng Pandanaran lantas berpesan kepada Nyai Kali Wungu jika kelak suatu saat Sendang Kucur di hutan ini akan menjadi tempat berkumpulnya makhluk-makhluk gaib yang ada di tanah Jawa Tengah. Makhluk gaib di Alas Kucul baru boleh diambil jika manusia telah memenuhi seluruh permukaan bumi ini.
Sepasang Thuyul Banyak Dicari
Mbah Jo sesepuh warga sekitar mengkisahkan, dari sekian lelembut yang mendiami Sendang Kucur, thuyul merupakan makhluk halus paling banyak di sana. Thuyul dari Alas Kucur ini selalu datang berpasang-pasangan, artinya siapapun orangnya yang menginginkan thuyul made in Alas Kucur ini nantinya akan mendapatkan dua thuyul sekaligus, yaitu thuyul laki-laki dan perempuan. “Kalau tidak satu pasang, maka thuyul tersebut tidak akan mau diambil,” kata Mbah Jo.
Untuk mendapatkan demit cilik ini, tidaklah sulit prosesnya. Siapapun bisa mendapatkan, hanya permasalahannya berani atau tidak memasuki hutan ini dan melakukan ritual di Sendang Kucur.
Setiba di mata air itu, peritual harus melakukan ritual pengambilan thuyul Alas Kucur dengan membakar dupa. “Ritual tersebut cukup lama, itu juga tergantung dari thuyulnya itu sendiri. Seperti anak-anak, ada yang bendel dan ada yang penurut. Kalau thuyulnya tidak bandel, ya prosenya bisa cepat, tapi kalau thuyulnya bandel bisa lama, sekitar 3 sampai 5 jam,” ungkapnya.
Yang tak boleh dilupakan, peritual harus pula membawa dua buah kendi atau tampat penyimpanan air jaman dahulu yang terbuat dari tanah liat. Kendi inilah nantinya yang akan digunakan sebagai tempat memboyong sepasang thuyul tersebut ke rumah.
Jika si thuyul bermiat diadopsi peritual, maka lelembut yang gemar mencuri uang ini akan menampakan dirinya dan memasuki kendi penyimpanan sementara tersebut. “Jadi, begitu thuyul sudah berada dalam kendi, maka orang tersebut harus langsung menututpnya dan segera pulang ke rumah, tidak boleh mampir-mampir. Jika nanti mampir, maka thuyul tersebut akan hilang dengan sendirinya,” ungkapnya.
Sesampainya di rumah, orang tersebut juga harus melakukan serangkaian ritual lagi untuk mengeluarkan kedua thuyul dari dalam kendi penyimpan tadi. Pada prosesi ini, si calon pemilik thuyul harus menyiapkan kembang setaman, jeroan ayam, daun pisang raja, mangkok kecil berisi air yang ditaburi kembang setaman dan menyalakan lampu minyak.
Setelah syarat dilengkapi, sekitar petang hari sepasang thuyul ini akan keluar dari kendi. Orang yang ingin memiliki pesugihan berupa thuyul ini pun, nantinya juga harus menyediakan ruangan khusus untuk menyimpan thuyul-thuyul di rumahnya. Di dalam ruang tersebut harus berisi kursi dari bambu yang panjangnya sekitar 0,5 meter, dua buah tikar kecil, dua buah bantal kecil. Ini semua dilakukan untuk memanjakan thuyul-thuyul tersebut.
“Membukanya tutup kendi harus tepat jam enam sore, tidak boleh kurang atau lebih, karena pada jam tersebut adalah waktu pergantian antara siang dan malam. Saat-saat inilah saat yang disukai makhluk halus untuk berkumpul,” terangnya.

Pekerja Keras Yang Tunduk Pada Majikan
Pesugihan berupa thuyul dari Alas Kucur ini memang sudah dikenal banyak orang, lantaran kepatuhan dan kerjanya rajin kepada si majikan yang memilikinya. “Kalau thuyul dari Alas Kucur ini memang rajin-rajin, kalau tidak rajin dikembalikan saja,” kata kakek lima orang cucu ini.
Thuyul Alas Kucur ini perawakannya seperti anak kecil pada umumnya, berpakaian lengkap seperti anak-anak kecil lainnya. Yang laki-laki berambut kuncung sedangkan yang perempuan berambut panjang. Kulit tubuhnya putih bersih namun licin, seperti tak memiliki pori-pori kulit dengan tinggi badan sekitar 80 sampai 100 cm saja.
Kedua thuyul ini nantinya akan bekerja bahu membahu dan saling berbagi tugas. Hanya saja, kedua thuyul ini tidak bisa bekerja atas kemauannya sendiri, artinya si pemilik thuyul harus memerintahkan thuyul-thuyul tersebut untuk bekerja mencari uang. Hari ini operasi kerja di rumah ini dan hari besok di rumah itu, begitu seterusnya.
“Namun jangan khawatir, jika sudah bekerja, pasti pulang membawakan hasil, tidak pernah pulang dengan tangan hampa,” katanya.
Hasilnya pun juga berbeda, jika kebanyakan thuyul meletakkan hasil kerjanya dalam sebuah baskom atau lemari khusus, namun tidak demikian dengan thuyul Alas Kucur ini. Kedua thuyul rajin ini akan menyerahkan hasil kerjanya langsung ke tangan tuannya, layaknya seorang anak yang menyerahkan uang kepada orang tuanya.
Selain itu, thuyul dari Alas Kucur ini juga dikenal tidak merepotkan, suatu saat jika si pemilik sudah merasa cukup dan tidak akan mempergunakan jasa thuyul kembali, proses pengembaliannya pun tidak sulit, tanpa mamakai tumbal dan tak akan mewaris kepada anak cucu si pemilik tersebut. “Kalau sudah merasa cukup, datang saja kembali ke Alas Kucur. Setelah itu, si pemilik tersebut dapat hidup normal kembali seperti sedia kala,” pungkasnya.

Tempat Ritual Para TKI Yang Ingin Sukses Kerja di Luar Negeri







TEMPAT keramat ini merupakan sebuah mata air atau masyarakat Jawa sering menyebutnya dengan nama sendang. Oleh moyang warga sekitar, mata air ini dinamakan Sendang Kali Pancur, yang jika diartikan secara harfiah Jawa berarti mata air yang mengalir layaknya sungai.
Sendang yang terletak di Kampung Gedang Anak, Ungaran, Jawa Tengah memiliki panjang sekitar 15 meter dan lebar kurang lebih 3 meter. Dengan debit airnya tak begitu banyak air dalam sendang akan mengalir keluar areal dan kemudian mengalir jadi satu ke arah sungai kecil yang melintas di kampung tersebut.
“Sendang Kali Mancur ini sudah ada sejak dahulu, sejak jaman kakek-nenek saya kecil pun sudah ada sendang ini,” cerita Mbah Darori (90) sesepuh desa Gedang Anak ini menceritakan.
Mata Air Yang Dijaga Peri Cantik
Dalam kepercayaan kultur Jawa, sebuah sendang diyakini akan memiliki kekuatan gaib. Setiap daerah tentunya akan memiliki kekuatannya yang berbeda-beda mengikuti aura yang menaunginya. Begitu juga dengan sendang yang berjarak kurang lebih 3,5 km sebelah tenggara kota Ungaran ini.
Konon, barang siapa saja orangnya yang mandi di sendang ini, maka dipercaya akan mendapat kelancaran dalam hal pekerjaan “Memang ada yang meyakini seperti itu, saya sendiri juga pernah dengar. Bahkan, warga di sini juga ada yang sukses bekerja setelah sebelumnya mandi dahulu di Sendang Kali Pancur,” kata Mbah Darori.
Maka tak heran jika sendang yang kedalaman airnya setinggi lutut orang dewasa atau sekitar setengah meter ini kemudian menjadi tempat yang acap disambangi oleh para orang pencari kerja, sebelum dirinya pergi mengadu nasib ke rantau termasuk para tenaga kerja Indonesia (TKI) sebelum berangkat ke luar negeri.
Diterangkan kakek berusia hampir seabad ini, ritual yang dilakukan di sendang keramat ini pun tidaklah sulit untuk dijalani, tak perlu membawa berkat sesaji maupun dupa atau kemenyan. Hanya dengan sekedar mandi di Sendang Kali Pancur dan berbekal niat yang tulus serta benar-benar niat mulia untuk bekerja, maka itu saja sudah cukup.
“Jika mau mandi di Sendang Kali Pancur ini jangan pernah punya niatan yang tidak baik atau hanya sekedar ingin main-main saja. Jika itu dilakukan malah akan buruk akibatnya,” imbuhnya meyakinkan.
Diyakini, peri cantik penunggu Sendang Kali Pancur tak menyukai permohonan yang buruk atau bertentangan dengan norma-norma umum, minta pesugihan misalnya. Singkatnya, niat kotor serta tujuan yang kurang baik adalah hal yang menjadi pantangan untuk dilakukan di tempat ini.
Murknya sang gaib penunggu Sendang Kali Pancur pun bisa berupa petaka yang ringan sampai yang berat sekalipun. Dari yang hanya akan mengalami kecelakaan kecil seperti tersandung bebatuan di sekitar sendang, bahkan sampai kepada sakit tak kunjung sembuh yang berujung pada kematian pun bisa terjadi jika pantangan tersebut dilanggar.
Namun, bagi mereka yang niatnya tulus iklas, maka orang tersebut akan merasakan air sendang yang berbeda dengan air yang biasa dirasakan. “Kalau orang yang ke Sendang Kali Pancur, pasti rasa airnya akan berbeda dengan air biasa. Rasanya seperti kemrenyes (segar) di badan,” unkapnya.
Ini artinya, bagi mereka yang permohonannya diterima maka peritual akan merasakan air Sendang Kali Pancur segar seperti ketika diguyurkan ke tubuh. Air terasa seperti berwaha dingin yang kemudian akan langsung menguap jika terhembus angin.
Namun jika air sendang hanya berasa tawar, tidak dingin tidak juga panas seperti air pada umumnya, itu pertanda kalau niat permohonannya belum diterima oleh penguasa peri cantik penguasa gaib Sendang Kali Pancur.
Daun Pohon Gayam dan Ramalan Musim Penghujan
Sejak keberadaannya ratusan tahun silam sampai sekarang, air Sendang Kali Pancur dikenal tidak pernah mengalami surut alias kering, walau dalam musim kemarau panjang sekalipun. “Mau musim hujan atau musim kering, airnya tetap akan segitu-segitu saja,” kata Mbah Darori.
Tak hanya Sendang Kali Pancur saja yang memiliki kekuatan gaib, lokasi sekitar dimana sendang tua ini berada juga dikenal tak kalah wingit alias angker. Sendang Kali Pancur ini terlatak tepat dibawah tiga pohon besar yang juga telah berumur ratusan tahun, diantaranya adalah dua buah pohon gayam dan satu pohon beringin.
“Dahulu sebanarnya ada banyak pohon rimbun dan besar-besar di sekitar sendang tersebut. Seiring usia pohon, satu persatu pohon pada tumbang dan mati dengan sendirinya. Namun hanya tiga pohon tersebut tersisa yang sampai saat ini belum mati atau tumbang. Sampai sekarang, tak ada orang yang berani mengusiknya atau bahkan berani menebangnya,” ceritanya.
Diantara ketiga pohon besar yang masih tersisa, kedua pohon gayam dikenal sebagai pohon yang paling angker, lantaran kedua pohon tersebut diyakini adalah istananya dari peri si penunggu gaib Sendang Kali Pancur. Dari cerita warga sekitar, banyak kejadian aneh yang sering terjadi pada pohon ini, seperti munculnya penampakan makhluk gaib seperti pocongan, genderuwo atau siluman ular raksasa, sampai suara-suara seram yang membuat bulu kuduk merinding.
Pernah juga dahulu ada anak warga sekitar kampung yang hilang, setelah dicari berhari-hari kemanapun tetap tidak ditemukan juga. Namun alehnya, tanpa dicari-cari, tahu-tahu si anak tersebut telah berada di bawah pepohonan gayam di Sendang Kali Pancur tersebut.
Ada peristiwa gaib lain yang ditunjukan dari kedua pohon gayam, inilah yang sering diyakini warga sebagai petunjuk akan gejala alam. “Daun pohon gayam yang ada di Sendang Kali Pancur itu dapat dijadikan sebagai pertanda akan datangnya hujan untuk wilayah di sini,” paparnya.
Tanda tersebut dilihat dari mulai adanya daun muda yang banyak tumbuh pada kedua pohon gayam keramat itu. Jika daun muda mulai tumbuh banyak, itu tandanya akan terjadi musim penghujan untuk wilayah sekitar sendang.
Tegasnya, walaupun wilayah Jawa Tengah dan kota sekitar Ungaran dimana pohon keramat dan sendang ini berada sudah mulai memasuki musim penghujan, namun jika daun pohon gayam yang tertanam di Sendang Kali Pancur ini belum menunjukan daun mudanya, maka bisa dipastikan wilayah kampung ini belum akan terjadi hujan.
“Daun muda pohon gayam itu adalah daun baru yang tipis, berwarna hijau muda kekuningan. Jika daun tersebut sudah mulai nampak, maka itu tandanya akan terjadi hujan. Jika daun itu belum terlihat, jangan harap akan turunnya hujan di kampung sini,” ungkapnya meyakinkan. (Ivan Aditya)

Ritual Pesugihan Omyang Jimbe






Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui masalah yang berarti. Kami hidup rukun dengan segala kebutuhan rumah tangga yang selalu bisa aku penuhi. Dua orang putraku pun bisa bersekolah dengan layak, salah satunya sudah duduk dibangku perguruan tinggi dan adiknya masih di bangku SLTP.
Tapi suatu ketika musibah datang beruntun dan langsung membuatku ambruk hingga tenggelam ke dasar lumpur kenistaan. Padahal baru saja dua bulan aku mengambil kredit di sebuah bank swasta nasional yang nilainya 700 juta rupiah. Untuk mendapatkan kredit sebesar itu, aku mengagunkan rumah yang aku tempati bersama isteri dan anak-anakku. Uang sejumlah itu aku gunakan untuk modal usaha karena aku sudah lama mendapatkan klien dari Singapura mengirim hiasan rumah tradisional.
Seperti disambar petir di siang bolong, hari itu aku mendapat kabar bahwa barang yang kupesan dari para pengrajin di Tasikmalaya tidak bisa dikirimkan. Alasan mereka belum mendapatkan bayaran sejak 3 bulan lalu. Para pengrajin itu menuntut pembayaran semua barang yang mereka kirim senilai hampir setengah milyar. Padahal aku sudah membayarkan semua hak mereka tanpa ada yang aku tunda-tunda. Pembayaran itu aku lakukan melalui kasir dan orang kepercayaanku.
Tak hanya itu, masalah lain timbul dari klienku yang di Singapura, dia menuntut aku untuk segera mengirimkan barang pesanannya. Panik bukan kepalang, di satu sisi aku harus membayar uang kepada para pengrajin di Tasikmalaya. Di sisi lain aku dituntut untuk mengirim barang ke Singapura atau kontrak yang telah kubangun akan segera diputuskan. Artinya aku akan kehilangan klien sekaligus harus membayar utang yang segunung jumlahnya.
Yah, tentu saja bukan aku tidak berusaha mencari jalan keluar. Aku sudah melaporkan penggelapan uang, penipuan dan korupsi pada Kepolisian. Tapi apa pun itu, tidak membuat usahaku lancar. Aku kehilangan klien karena ulah karyawanku yang membawa kabur uangku. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya lagi. Alamat yang ditinggalkannya ketika melamar pekerjaan 4 tahun lalu ternyata palsu. Aku sudah menelusuri semua jejak yang pernah dia tinggalkan, tapi semua nihil.
Singkat cerita, aku benar-benar terpuruk, usahaku hancur dan rumahku disita bank karena aku tak mampu membayar hutang. Aku ngontrak di sebuah rumah petakan di Cinere. Tapi itu belum bisa membuat hidupku tenang. Karena para pengrajin di Tasikmalaya masih terus memburuku karena aku masih mempunyai hutang pada mereka sejumlah hampir 400 juta rupiah. Nyaris setiap hari aku didatangi orang yang menagih hutang ke rumah kontrakanku. Dan hampir setiap jam telepon genggamku berdering oleh orang-orang yang menagih hutang.
Keterpurukanku itu berlangsung hingga tahun 2009. Sepanjang dua tahun, hidupku benar-benar hancur, untuk mencari makan saja aku harus meminta bantuan ke mana-mana. Anak sulungku terpaksa harus berhenti kuliah karena aku tak sanggup lagi membiayainya. Isteriku setiap hari harus ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan dan makanan kecil di depan kontrakan. Sementara hutangku masih menggunung dan aku hanya mampu menjanjikan pada para pengrajin di Tasik, bahwa suatu hari aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku.
Hari itu temanku Haris memperkenalkan aku pada seorang temannya yang bernama Edi. Menurut Haris, temannya yang bernama Edi itu bisa membantu menyelesaikan masalahku dengan kekuatan gaib. Tertarik dengan hal itu, aku mengajak Haris bertemu dengan Edi di suatu tempat di bilangan Bekasi. Dan hari itu pula aku diajak Edi bertemu dengan seorang spiritualis yang bernama Wisnu. Dari mas Wisnu inilah aku diberitahu bahwa aku bisa menggelar sebuah ritual untuk mendapatkan sejumlah uang dari gaib.
Menurut Wisnu, spiritualis yang berusia sekitar 45 tahun itu, ritual menarik uang gaib ini menggunakan kekuatan keris Omyang Jimbe. Sebuah keris keramat yang umurnya sudah ratusan tahun. Di rumah Mas Wisnu, aku diperlihatkan sebuah keris yang di kepalanya berhias dua orang yang nampak sedang semedi. Itulah yang disebut Mpu Omyang Jimbe pembuat keris pusaka yang kekuatan gaibnya bisa digunakan untuk menarik uang dari alam gaib.
Aku semakin antusias karena menurut Mas Wisnu tak perlu tumbal untuk mendapatkan uang dari alam gaib itu. Meski dengan ritual yang teramat sakral tapi gaib penghuni keris itu tidak meminta tumbal pada pelaku ritual. Gaib itu hanya menuntut agar pelaku ritual itu berlaku jujur. Sebab uang yang bisa ditarik dari alam gaib itu hanya boleh dipergunakan untuk membayar hutang atau pelakunya benar-benar dalam keadaan terdesak. Selain itu jumlah uang yang bisa didapatkan pun terbatas sesuai dengan kebutuhan pelaku itu sendiri.
Yah, dengan bermodalkan keyakinan aku menghadap Mas Wisnu untuk mengadakan perjanjian ritual. Aku diminta untuk menyediakan sejumlah sesajian lengkap untuk menggelar ritual itu. Aku harus menyediakan kembang setaman lengkap dengan kemenyan dan uborampe lainnya. Kemudian aku juga diminta untuk menentukan di mana lokasi ritual itu akan digelar. Menurut Mas Wisnu, lokasi ritual itu boleh ditentukan oleh pelaku sendiri. Bisa digelar di tempat keramat atau di mana saja bahkan juga bisa digelar di rumah pelaku sendiri. Tapi karena rumah kontrakkanku terlalu sempit, maka aku memilih menggelar ritual di sebuah tempat keramat di Bogor, Jawa Barat.
Sesuai dengan kesepakatan dan perhitungan primbon Mas Wisnu, siang itu aku berangkat ke rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Hari itu Kamis malam Jumat, berdasarkan perhitungan Mas Wisnu, hari itu adalah hari baik untukku dan keluargaku. Aku berangkat dari rumah Mas Wisnu sekitar pukul 4 sore menuju sebuah tempat keramat di perbatasan antara Jasinga, Bogor dengan Tangerang Banten. Ritual itu sendiri baru akan digelar menjelang tengah malam.
Sesuai perhitungan, kami baru tiba di keramat itu sekitar pukul 8 malam. Setelah meminta ijin pada juru kunci, kami langsung menuju lokasi keramat untuk mengenali situasinya. Ternyata keramat ini memang nampak menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri tegak bagaikan raksasa yang tengah berkacak pinggang. Di bawah pohon-pohon besar itu berdiri sebuah gubuk kecil yang gelap gulita. Hanya ada sebuah lampu minyak yang kadang redup tertiup angin malam.
Beberapa saat aku ngobrol dalam gubuk itu bersama 5 orang yang ikut dalam ritual itu. Aku sendiri ditemani seorang saudaraku yang ingin ikut menyaksikan ritual itu. Selama kami ngobrol, aku merasakan banyak getaran gaib yang menyelimuti tempat keramat itu. Aku yakin tempat itu pasti dihuni oleh banyak makhluk halus yang tak kasat mata. Dan setelah ngalor ngidul kami ngobrol akhirnya waktu yang telah ditentukan untuk menggelar ritual itu pun tiba.
Pukul 11 malam, Mas Wisnu mulai memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesajian yang kami bawa. Berbagai uborampe digelar dalam cungkup yang luasnya sekitar 10 meter persegi itu. Kembang setaman digelar di atas sehelai kain putih. Perapian mulai dibakar dan sesaat kemudian api mulai menyala membakar arang dalam bokor tembaga. Beberapa batang hio mulai mengepulkan asap yang baunya khas menusuk hidung. Terakhir Mas Wisnu mencabut sebuah keris yang bernama Omyang Jimbe. Keris itu berdiri tegak di atas sehelai kain putih di depan sesajian.
Ritual itu mulai digelar, aku duduk bersila di belakang Mas Wisnu. Berjejer di samping kiriku adalah saudaraku dan seorang anak buah Mas Wisnu. Lalu di samping kananaku dua orang lain yang diajak Mas Wisnu. Segala syarat perlengkapan untuk memanggil kekuatan gaib keris Omyang Jimbe telah siap digelar. Asap hio dan kemenyan pun telah mengepul sejak beberapa menit lalu. Memanggil segala jenis makhluk halus untuk memberi kekuatan pada ritual itu.
Tepat tengah malam, Mas Wisnu mulai membacakan mantera dan jampi-jampi yang aku tak mengerti. Beberapa bait mantera dan jampe-jampe dari bahasa Jawa kuno meluncur dari mulutnya. Sebelum itu Mas Wisnu juga membacakan beberapa Ayat Suci Al Qur’an, maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada para peserta ritual. Sebab menurutnya di tempat seperti itu resiko gangguan makhluk halus pasti sangat besar.


Setelah pembacaan mantera itu selesai, lalu Mas Wisnu memerintahkan seorang asistennya yang masih sangat muda untuk duduk di depan sesajian itu. Sesaat kemudian asisstennya yang masih anak muda itu menutupi sebuah kardus dengan kain putih. Kemudian dia pun membacakan beberapa ayat Suci Al Qur’an sambil duduk bersila di depan sesajian dan kardus itu.
Suasana mulai terasa mencekam manakala anak muda itu usai membacakan manteranya. Bulu kuduku terasa lebih merinding dibandingkan beberapa saat lalu. Aku merasa seperti ada makhluk halus yang tengah memperhatikan gerak-gerikku. Mataku mulai melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan seluruh ruangan cungkup itu. Tapi tak ada apapun di sana, hanya kegelapan malam yang kulihat. Sesekali aku mendengar suara burung hantu dan binatang malam yang membuat suasana makin mengerikan. Aku yakin di situ pasti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanku. Aku merasakan itu karena hampir seluruh bulu dalam tubuhku berdiri. Dadaku pun berdebar makin keras. Naluriku memastikan ada makhluk lain yang ikut dalam ritual itu.
Sedang diliputi rasa takut itu, tiba-tiba blaaarrrr. Kardus yang ditutup kain putih itu seperti meledak menimbulkan suara gaduh. Jantungku seperti mau copot, aku kaget bukan kepalang hingga posisi duduku berubah sedikit mundur bahkan nyaris lari lantaran kaget dan rasa takut.
“Tenang-tenang. Tidak ada apa-apa. Itu hanya sebuah pertanda bahwa ritual kita direstui gaib dan kita nyaris berhasil,” ujar Mas Wisnu manakala melihat keadaanku yang sangat ketakutan.
“Tetap konsentrasi dan jangan bertindak yang bukan-bukan,” lanjutnya.
Sesaat kemudian Mas Wisnu mengambil alih ritual dari anak muda itu. Kembali Mas Wisnu membacakan beberapa bait mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas bokor yang arangnya masih terlihat membara merah. Tak seorang pun yang berani membuka mulut, suasana makin hening mencekam.
“Nah, ritual ini telah selesai. Mari kita lihat apa yang ada dalam kardus itu,” tiba-tiba Mas Wisnu bersuara sambil menunjuk kardus yang tertutup kain putih.
“Silahkan buka kardus itu, Mas Yogi,” tuturnya sambil menatap ke arahku. “Atau kalau sampeyan takut, biar aku saja yang membukanya,” lanjutnya melihat aku yang nampak ragu dan ketakutan.
“Silahkan, mas saja yang membukanya,” jawabku singkat.
Perlahan Mas Wisnu mulai menyingkap kain putih yang menutupi kardus itu. Dadaku masih berdebar, benakku terus bertanya-tanya apa yang ada dalam kardus kosong itu. Sesekali aku bisa melihat raut wajah Mas Wisnu yang nampak was-was. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Mas Wisnu nampak berubah. Ada rasa sumringah tatkala dia mulai membuka tutup kardus itu.
“Alhamdulillah, ternyata ritual kita dikabulkan. Silahkan lihat apa isi kardus ini,” tutur Mas Wisnu dengan senyum penuh kebahagiaan.
Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat apa yang ada dalam kardus itu. Setumpuk uang pecahan seratus ribuan memenuhi kardus itu. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa tak percaya, aku mengambil segepok uang itu. Setelah kuperhatikan, ternyata benar itu adalah uang yang selama ini aku dambakan untuk melunasi hutang-hutangku.
“Ingat Mas Yogi, pertama kali yang sampeyan lakukan dengan uang ini adalah membayar hutang. Jika hutangmu sudah lunas semua, maka sisanya boleh digunakan untuk apapun,” jelas Mas Wisnu mengingatkanku.
Yah, singkat cerita, kami pulang dengan membawa hasil yang kami harapkan. Dengan uang itu aku membayar seluruh hutangku pada para pengrajin di Tasikmalaya. Aku juga melunasi hutang-hutang kecilku pada teman-teman dan tetangga yang telah membantuku. Anehnya uang itu memang hanya cukup untuk membayar hutang. Hanya tersisa tak lebih dari 2 juta saja dari sisa pembayaran hutang-hutangku itu. Tapi syukur, aku bisa melunasi hutang-hutangku meski kini aku harus mulai kembali usahaku dari nol.

Pintu Gaib Pangeran Diponegoro di Goa Selarong


SIAPA yang tak kenal dengan Pangeran Diponegoro, pejuang berkuda dari tanah Jawa dengan sorban putih dan senjata keris tersebut. Sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan tempat keramat yang satu ini, yaitu Goa Selarong.
Pada masa perlawanan Diponegoro terhadap Belanda pada tahun 1825 sampai 1830, Goa Selarong merupakan kunci keberhasilan perjuangan Diponegoro dan pasukannya. Disamping untuk tempat persembunyian, tempat ini juga dijadikan sebagai markas untuk mengatur strategi guna mengusir kompeni dari tanah Jawa.
Letak wilayah Goa Selarong termasuk ke dalam wilayah Dusun Kembang Putihan, Kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Letaknya berada di selatan Kota Gudeg ini, kira-kira berjarak 30 km dari pusat kota atau jika menggunakan perjalanan darat akan memakan waktu sekitar 45 menit lamanya.
Kompleks Goa Selarong terletak di lokasi perbukutan kapur setinggi kurang lebih 35 m yang dipenuhi oleh pepohonan yang labat nan rindang. Letaknya sangatlah curam, kemiringan bisa sekitar 45 derajat. Untuk mencapainya, siapapun orangnya harus meniti ratusan anak tangga sejauh 400 m untuk bisa sampai ke tempat itu.
Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.
Dikatakan oleh Sarimin (75) kepada KRjogja.com, sang juru kunci kompleks Goa Selarong, secara kasat mata memang Goa Selarong tersebut adalah buntu, namun bagi Diponegoro dan para pengikutnya, Goa Selarong merupakan pintu gaib untuk masuk menuju ke dalam perut bukit kapur tersebut.
“Walaupun goa tersebut buntu, namun Pangeran Diponegoro dan pengawalnya bisa menembusnya hingga ke dalam, seolah bisa tinggal berada di dalam bukit tersebut. Jadi, Goa Selarong hanyalah sebagai pintu gaib masuknya saja dan goa yang sebenarnya masih berada jauh di dalamnya,” katanya.
Itulah sebabnya yang membuat mengapa Pangeran Diponegoro dan pasukan setianya akan sangat sulit ditangkap dan sama sekali tidak pernah tersentuh atau sekalipun terlihat oleh mata pasukan Belanda, jika sedang bersembunyi di Goa Selarong ini.
Walaupun pasukan Belanda telah sampai di kompleks tersebut, namun pasukan kompeni tetap saja tidak dapat melihat bahwa sebenarnya terdapat ratusan pasukan Diponegoro bersembunyi di dalam Goa Selarong. Pasukan kompeni hanya berputar-putar di lokasi dan hanya bisa melihat gunungan batu cadas yang tak berpenghuni.
Tak heran jika kemudian untuk memancing seorang Diponegoro agar mau keluar dari Goa Selarong, kompeni Belanda melalui Jendral De Kock harus melakukan politik adu domba dengan cara mengajak berunding Diponegoro di Magelang pada sekitar tahun 1830, untuk kemudian menangkap dan mengasingkannya ke Makasar, Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya di tahun 1855.
Keramatnya kompleks Goa Selarong dengan pintu goa gaibnya yang bernama Goa Selarong ini memang sudah tersohor bagi telinga masyarakat Jawa hingga saat ini. Kompleks ini pun terbilang wingit alias angker, pada malam-malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, terkadang dari dalam perut Goa Selarong terdengar lantunan gending-gending Jawa yang sedang ditabuh. Ada suaranya, namun tidak ada wujudnya.
Konon diyakini, pada kedua hari tersebut para gaib sedang berkumpul di tempat-temat keramat, termasuk di Goa Selarong ini. Pada saat itulah, dari malam hari sampai subuh tebaran aroma seperti dupa dan kemenyan pasti sangat jelas menyeruak dari Goa Selarong ini.
Pun demikian, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan di Goa Selarong ini, yaitu meminta pesugihan atau meminta nomor togel. “Hal itu yang sangat tidak disukai oleh gaib di Goa Selarong tersebut. Jika itu dilarang, pasti bencana akan menimpa siapa saja yang melanggarnya,” kata kakek 4 cucu ini.
Bencana tersebut bisa langsung terjadi di tempat itu juga, seperti misalnya terpeleset atau terjatuh dari tebing hingga berakibat kematian. Kalaupun tidak di tempat tersebut, dilain tempat bencana itu pasti akan menghampiri. “Kalau mau mencari pesugihan atau mencari nomor, jangan di tempat sini, mending mencari di tempat lain saja,” ingat Sarimin. (Ivan Aditya)sumber : KRJOGJA